Pages

Echola's Growth Enhancement - Meet dr. Yovita Ananta, Sp. A

Friday, August 31, 2018

"Beratnya berapa?"

Itu adalah pertanyaan tentang Mas Echo yang paling gue benci. Secara kasatmata, cah lanangku itu emang cilik. Jadi pastilah emang beratnya kurang. Masa ngana tega nanya-nanya lagiiii??? Sebenernya, berat kurang masih bisa gue terima, karena emang secara genetik, gue dan suami juga bukan yang tipe bongsor. So, anak 'sedikit' kecil, bukan masalah buat gue.

Yang jadi masalah adalah... ternyata tinggi badannya juga kurang.

Which I should admit that I was being quite ignorant on this case. 

Sejak Mas Echo tuntas kewajiban imunisasinya, gue jaraaaang banget bawa dia ke dokter untuk sekedar konsultasi. Kalo dia sakit yang udah lumayan berat sih, pasti gue bawa ke DSA. Terakhir kali Mas Echo ke dokter juga malah visit ke dokter gigi. Ya abeeessss, kan emang giginya waktu itu yang mao gue periksain.

Jadi gue harus akuin, gue rada 'kecolongan' di masalah berat sama tinggi badannya. Padahal dulu, waktu jamannya Mas Echo masih minum ASI aja dan awal-awal MPASI, doi montok bener lhooo. Seluruh badannya berlipet-lipet sampe sering lecet. Ke mana sekarang semua lipetan itu?

Sebenernya gue udah cukup lama punya concern sama masalah berat badannya Mas Echo. Yang mana gue cukup yakin, disebabkan oleh nafsu makannya dia yang superrrrrrr minim. I'm not kidding. Kalo ngga kita (gue/cus/mba) jejelin makan, seharian pun dia pasti tahan ngga makan apapun!

Dan apa dia jadi lemes? Kurang energi? Tidur mulu seharian?

Nope. Dia tetep aktif dan lincah seperti abis makan sapi seekor.

Hasil gambar untuk i will survive gif


Lalu, gue pun ingin bertanya: dari mana kau dapat kekuatan untuk jadi kitiran sepanjang hari dan saban hari, nak? Coba tolong, ajari ibumu.

*memandang nanar ke tetelan di paha*

Gue coba konsul ke beberapa temen dan kenalan gue yang DSA. Kata mereka, ngga usah terlalu khawatir masalah nafsu makan anak. Jangan paksa mereka untuk makan. Jangan minta mereka untuk SELALU doyan makan. Anak itu sama aja kaya orang dewasa, kadang doyan makan, kadang males makan.

Singkat kata, gue waktu itu cukup ditenangkan dengan kalimat: ada anak yang hidup untuk makan, sementara ada juga anak yang makan untuk hidup

Oke, sip. Mungkin anak gue tipe yang kedua. Ngga kaya emaknya, haha. Gue mah jujur, hidup untuk makan. Gaji untuk makan. Bonus untuk makan. Uang jajan dari suami juga untuk makan. For me, food equal to lyfe.

Hasil gambar untuk i love food gif


Jadi saat itu gue anggap all iz well...

Sampai saat gue membawa Mas Echo untuk konsul dengan dr. Yovita, Sp.A. Itu pun sebenernya waktunya Fluna untuk kontrol rutin dan vaksinasi. Tapi gue pikir, udah lama nih Mas Echo ngga periksa. Sekalian aja deh, gotong anaknya!

Btw, anak gue emang drama king bener ya. Pas mau ditimbang beratnya, masih normal perilakunya. Eeeh, pas mau diukur tinggi badan sama lingkar kepala.... ya Tuhaaan, drama nangis kejer! Berasa kambing kurban mau disembeleh! Semua suster, gue, cus, dan mba yang mau megangin, dia serang. Padahal kan, apa sakitnya cobaaa diukur-ukur gitooooo...

Aku sungguh gagal paham.

Hasil gambar untuk i don't understand gif


Akhirnya di nurse station, Mas Echo ngga diukur tinggi badan sama lingkar kepalanya. Zzzz...

Begitu masuk ke ruang prakter dokter, awalnya masih tenang ya, dia asik mainan blok sementara adeknya diperiksa dan disuntik. Begitu gilirannya diperiksaaaa.... perang dunia dimulai. Doi menolak lagi diperiksa tinggi badan dan lingkar kepalanya. Akhirnya dia dibaringkan di kasur periksa dengan penuh paksaan. Diukur tinggi badannya juga sambil tiduran. Kasian sih dipaksa sampe nangis-nangis kejer gitu. Apa boleh buat, kan harus dapet ukurannyaa... 😔😔😔

Dan kekhawatiran gue terjadi. Tinggi badan Mas Echo kurang dari yang seharusnya. Kurangnya sih 'cuma' sekitar 2 cm. Tapi kurangnya tinggi badan pada anak itu menandakan kalau badannya sudah kekurangan nutrisi dalam waktu yang lamaaaa. Intinya, kalau berat badan aja yang kurang, masih cukup okelah. Tapi kalau tinggi badan juga kurang... it's a warning sign!

Dr. Yovita juga bertanya tentang tinggi badan gue dan suami. Tujuannya untuk menilai potensi genetik dari tinggi badannya Mas Echo. Dengan tinggi badan gue yang 161 cm dan suami yang 168 cm, sebenernya tinggi badan Mas Echo berpotensi ada di persentil 15-25. Tapi nyatanya? Sekarang dia ada di persentil 3 aja dong!

Sedih aku. Kray!

Mana kata dr. Yovita, ngejar tinggi badan itu, biarpun 'cuma' 2 cm aja, pasti butuh waktu yang ngga sebentar. Anak harus di-boost banget asupan nutrisinya. Yang masuk ke mulutnya harus yang padat nutrisi. Ngga bisa asal makan aja.

Gue harus akuin, Mas Echo ini kuraaang banget asupan protein dan lemaknya. Ya gimana nggaaa, makanan yang paling ngga dia suka adalah daging. Daging ayam masih mending. Daging sapi? Dooohhh.. ndak suka blas! Sementara gue, ke Shaburi aja minimal abis 7 piring daging. Anak siapa kamu?

Terus, makanan favoritnya Mas Echo apa?

Ya pokoknya yang bukan daging. Sayur kek, buah kek, puding kek. Bahkan semua cemilan yang minim gizi dia suka semua. Bah!

Selain minim protein dan lemak, nyuapin Mas Echo itu drama kumbara banget. Kemaren aja, kita suapin dia makan siang selama 2.5 jam cuma dapet 8 suap, dong! Gilingan padi! Itu pun suapan terakhir diemut....terus dilepeh. Rasanya, begitu selesai nyuapin dia makan siang, udah waktunya makan malem lagi. Cih!

Singkat cerita, di akhir konsultasi, dr. Yovita menyarankan beberapa hal:

- Optimalkan susu formula, minimal pemberian dua kali sehari, masing-masing 200 cc.

- Lebih baik mengkonsumsi susu formula dibanding susu UHT, yang mana sebenernya Mas Echo suka banget, sehari bisa 4 kotak kecil. Konon katanya, karena kandungan di susu UHT tidak sepadat di susu formula. Btw, ini untuk kasus anak gue yang kurang berat/tinggi badan yaa. Untuk anak dengan berat/tinggi badan normal, gue percaya kalo UHT juga sudah sangat bagus!

- Minimalisir konsumsi snack, terutama yang minim gizinya, yang isinya tepung doang. Semua yang Mas Echo suka, macem Beng-Beng, Nyam-Nyam, itu disuruh di cut semua. Biar dia ngga makan mereka, dan lebih berminat untuk makan makanan yang lebih 'berat'.

Hasil gambar untuk cut cut gif


- Kalau mau nyemil, harus yang padat nutrisi, misalnya pasta atau roti. Buah pun juga yang harus kaya lemak, seperti alpukat. Buah-buahan favorit Mas Echo macem jeruk dan semangka, katanya cuma banyak airnya aja. Tapi nutrisinya kurang. Syedih beneeerrrr...

- Waktu makan jangan terlalu lama, jangan sampe berjam-jam. Lebih baik frekuensi makan aja yang dipersering. Dibanding waktu makan yang lama, lalu anak keburu jenuh makan.

- Cek laboratorium, seperti kadar besi dan kalsium darah. Kata dr. Yovita sih, kalau bisa ASAP ya!

Setelah sesi konsultasi, bisa dibilang gue lemah lesu dan gontai. Sediiiih rasanya anak berat dan, apalagi, tingginya kurang. Berasa apa aja, ngga bisa menuhin nutrisi anaknya. Buat apa kerja jauh-jauh, cari duit banyak-banyak, kalo anaknya tumbuh kembangnya kurang.

As a mom, I feel failed. Kok kayanya, ngasih makan anak dengan bener aja gue ngga bisa sih???

Tapi galau dan sedih ngga boleh kelamaan. Mas Echo sekarang baru (hampir) 3 tahun. Masih punya 2 tahun lagi di golden period-nya. Gue harus semangat ngebuat program untuk growth enhancement-nya. Ngga ada lagi sante-sante dan leha-leha!

Wish me much luck!!!

2 comments:

  1. Memang sih bunda kalau aku baca artikel dokter di https://www.friso.co.id/artikel/pentingnya-memperhatikan-berat-badan-si-kecil katanya mengukur berat badan anak sangat penting untuk tahu kesehatannya,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, makanya begitu tau berat sama tingginya kurang, aku sedih bangeet, berasa kecolongan huhuhu...

      Delete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS